07 September 2026
Wonosobo, 7 September 2026 — Program Pascasarjana (PPs) Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) bekerja sama dengan Fakultas Komunikasi dan Sosial Politik (FKSP) UNSIQ menyelenggarakan Kuliah Pakar bertema “Membangun Manusia, Merawat Kebudayaan: Agama, Pendidikan dan Politik dalam Agenda Pembangunan Bangsa”, Senin, 7 September 2026. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Achmad Maulani, M.Si. sebagai narasumber dengan budayawan Wonosobo, Haqqi El Anshori, bertindak sebagai moderator. Kuliah pakar diikuti oleh mahasiswa Program Pascasarjana dan mahasiswa FKSP UNSIQ sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan akademik mahasiswa terhadap persoalan agama, pendidikan, kebudayaan, dan politik dalam konteks pembangunan bangsa. Acara diawali dengan sambutan Direktur Program Pascasarjana UNSIQ yang menekankan pentingnya literasi dan pengetahuan politik bagi mahasiswa maupun masyarakat luas. Politik, menurutnya, bukan semata-mata persoalan kekuasaan atau kontestasi elektoral, melainkan sesuatu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan beragama dan pendidikan. “Pengetahuan politik penting karena politik bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Kebijakan politik menentukan banyak hal yang kita alami setiap hari, termasuk bagaimana pendidikan diselenggarakan, bagaimana kehidupan beragama dijamin, dan bagaimana kebudayaan dirawat. Karena itu, memahami politik berarti memahami salah satu dimensi penting dari kehidupan kita sebagai warga negara.” Menurut Direktur Pascasarjana, mahasiswa perlu memiliki kemampuan membaca berbagai persoalan publik secara kritis dan komprehensif. Pendidikan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik dalam bidang keilmuannya, tetapi juga perlu membangun kesadaran sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan bersama. Tema kuliah pakar ini secara khusus mempertemukan tiga ranah penting dalam kehidupan kebangsaan, yakni agama, pendidikan, dan politik, dengan kebudayaan sebagai ruang yang menghubungkan ketiganya. Ketiganya tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan manusia dan arah pembangunan bangsa. Dalam pemaparannya, Dr. Achmad Maulani, M.Si. menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengawal implementasi kebijakan negara. Kebijakan publik, menurutnya, tidak berhenti pada saat sebuah regulasi ditetapkan. Justru setelah kebijakan dibuat, masyarakat memiliki peran penting untuk memastikan bahwa kebijakan tersebut benar-benar dilaksanakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Keterlibatan publik menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola pemerintahan yang sehat. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi objek dari berbagai kebijakan negara, tetapi perlu mengambil posisi sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk memahami, mengawasi, memberikan kritik, sekaligus mendorong agar kebijakan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Diskusi berlangsung secara dinamis dengan keterlibatan aktif mahasiswa Pascasarjana dan FKSP UNSIQ. Berbagai persoalan aktual terkait relasi agama, pendidikan, politik, kebudayaan, serta pembangunan manusia menjadi bagian dari diskusi yang berkembang dalam forum tersebut. Kehadiran budayawan Wonosobo Haqqi El Anshori sebagai moderator turut memberikan perspektif kebudayaan dalam diskusi. Perspektif tersebut menjadi penting karena agenda pembangunan bangsa pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai pembangunan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga mengenai bagaimana manusia dan kebudayaannya ditempatkan sebagai bagian utama dari proses pembangunan. Bagi Program Pascasarjana UNSIQ, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang interdisipliner, kontekstual, dan transformatif. Mahasiswa didorong untuk tidak melihat persoalan agama, pendidikan, politik, dan kebudayaan sebagai bidang yang berdiri sendiri, tetapi sebagai realitas yang saling berkelindan dalam kehidupan masyarakat. Kuliah pakar ini sekaligus menjadi ruang akademik untuk membangun kesadaran bahwa pembangunan bangsa pada akhirnya bukan sekadar tentang membangun sistem, melainkan tentang membangun manusia dan merawat kebudayaan. Pendidikan, agama, dan politik memiliki peran strategis dalam proses tersebut, sementara partisipasi masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting untuk memastikan pembangunan berjalan secara berkeadilan dan berorientasi pada kepentingan publik.